Entries Tagged 'News' ↓
March 23rd, 2010 — News
March 23rd, 2010 — News
Ilustrasi Banjir Bandang
5 orang siswa SMP Yayasan Al Hudaidyah, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi, terseret arus Sungai Cibojong yang tengah mengalami banjir bandang.
Dalam peristiwa ini, satu orang tewas dan empat korban lainnya berhasil diselamatkan warga setempat.
Keterangan yang dihimpun, bencana yang terjadi sekira pukul 15.00 WIB, Senin (22/3/2010) ini terjadi ketika kelima siswa kelas III tersebut tengah menggelar rujakan di tepian sungai yang terletak di Kampung Pasir Reungit RT04/06 Desa Jaya Bakti, Kecamatan Cidahu.
Mereka antara lain Agus, Mohamad Arif, Tika, Nia dan Riska. Kegiatan ini dilakukannya sebagai pengisi waktu libur menjelang Ujian Nasional yang akan berlangsung pekan depan.
Di tengah kegembiraannya itu, tiba-tiba arus Sungai Cibojong dilanda banjir bandang. Arus sungai setinggi kurang lebih 2 meter ini langsung menerjang dan menenggelamkan tubuh para remaja yang rata-rata berusia 14 tahun tersebut.
Empat orang berhasil diselamatkan oleh warga setempat. Namun satu siswa lainnya yakni Mohamad Arif ditemukan tewas setelah dilakukan upaya pencarian selama dua jam.
Yayan (30), seorang warga mengaku, empat orang siswa yang tenggelam itu berhasil diselamatkan karena bagian tubuhnya mengapung di antara arus sungai. Berbeda dengan korban Mohamad Arif. Remaja tanggung ini langsung menghilang seiring dengan gelombang air bah sehingga sulit untuk digapai oleh warga.
Sementara itu Kepala Desa Jaya Bakti Deden Rusiana Munggaran mengaku, jasad korban ditemukan warga di radius 400 meter dari lokasi kejadian. Tubuhnya terselip di antara bebatuan, tepatnya di bagian dasar sungai.
“Para korban berada di tepian sungai untuk rujakan. Awalnya arus itu hanya menenggelamkan empat orang, namun satu orang lainnya berusaha menyelematkan hingga akhirnya ikut terseret arus,†ujar Deden.
Dia mengaku, di musim penghujan ini, Sungai Cibojong kerap dilanda banjir bandang. Karena kondisi itu pula, sungai tersebut jarang digunakan warga sebagai lokasi pemandian atau bermain.
(Toni Kamajaya/Koran SI/ram) ref:okezone
March 23rd, 2010 — News
Harimau Sumatera
Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) Kementerian Kehutanan menggelar operasi penertiban satwa langka. Hasilnya,
9 harimau Sumatera dan beberapa satwa langka berhasil diamankan petugas.
“Operasi kita gelar dalam rangka menertibkan satwa,” tutur Dirjen PHKA, Darori di Gedung Kementerian Kehutanan, Senayan, Jakarta Selatan, Senin (22/3/2010).
Operasi penertiban ini digelar 2 kali. Pada operasi pertama, petugas dari Dirjen PHKA mengamankan 5 ekor harimau di Bintaro. Dan pada operasi yang kedua, petugas kembali mengamankan 4 ekor di Pamulang.
Sebetulnya, petugas hingga kini masih melakukan tes DNA terhadap 5 ekor harimau yang dijaring di Bintaro. “Apakah harimau Sumatra atau Benggala. 4 ekor di Pamulang resmi harimau Sumatera, setelah di tes di laboraorium Eijkmen UI,” kata Darori.
Selain 9 harimau, petugas juga menjaring 4 ekor cenderawasih ekor kuning, 2 ekor rusa timor, 2 ekor kakatua raja, 5 ekor kakatua jambul kuning, 1 ekor kakatua jambul kuning citroen, 1 ekor kakatua tanimbar, 2 ekor kakatua seram, dan 3 ekor bayan.
Semua hewan langka ini disita dari pemiliknya, HYS. Kini HYS telah ditetapkan menjadi tersangka. Ia diancam dengan UU No 5/1990 tentang konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Ancaman pidana maksimal 5 tahun atau denda maksimal Rp 100 juta.
“Sebenarnya warga dimungkinkan untuk memelihara satwa dilindungi seperti harimau. Tetapi itu masih wacana. Banyak syaratnya seperti harus peranakan, mau mendepositkan uang untuk jaminan sampai Rp 1
miliar, punya tanah yang cukup, dan mempunyai penjaga dan ada dokter hewan,” terang Darori.
Hewan yang disita kini dititipkan di sejumlah Pusat Penangkaran Satwa (PPS) seperti di PPS Tegal Alur, Jakbar. Hewan itu nantinya akan dipelihara di kebon binatang, tempat penangkaran atau
kembali dilepas di alam liar. (Ari/gun) ref:detiknews
March 22nd, 2010 — News
Dugaan suap yang melibatkan 39 anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) periode 1999-2004 dalam pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Miranda S Goeltom dinilai memprihatinkan. Hal ini membuktikan DPR masih sangat rentan dengan terjadinya traksaksi politik.
“Dengan terkuaknya 39 anggota dewan yang diduga terlibat menerima suap dari Miranda saat akan menjadi Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia ini membuktikan bahwa lembaga DPR sangat rentan dengan tranksakisonal politik. Hal seperti ini tidak seharusnya terjadi, karena DPR merupakan lembaga yang dipilih langsung oleh rakyat,” kata pengamat hukum HIJ’D Institute IChie Siregar di Jakarta, Minggu (21/3/2010).
Menurut Ichie, 39 angota dewan yang diduga menerima suap tersebut terkuak dalam fakta persidangan yang saat ini kasusnya sedang digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor). Mereka terdiri dari 19 orang dari fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), 12 dari Partai Golongan Karya (Golkar), 4 orang anggota dewan dari fraksi Partai Persatuan Pembangunan dan dari unsur TNI/Polri sebanyak 4 orang.
“Fenomena dugaan suap ini menjadi pintu masuk kearah upaya peninjauan kembali undang-undang terkait yang mengharuskan setiap pejabat Negara harus melewati seleksi di DPR. Tidak menutup kemungkinan dugaan suap juga terjadi dalam pemilihan pejabat Negara yang lain,” jelasnya.
Sejumlah pejabat Negara, lanjut Ichie, yang harus dipilih melaluli seleksi anggota DPR seperti pemilihan ketua Komisi Pemberansan Korupsi (KPK), ketua Mahkamah Agung (MA), Kapolri, ketua Komisi Yudhisial (KY) serta pejabat tinggi negara lainya.
“Kita ingin, ketua lembaga tertentu yang dipilih oleh DPR merupakan orang sangat berkualitas dibidangnya bukan orang yang karena banyak materilnya,” ujarnya.
“Sangat memprihatinkan, kelakuan 39 anggota dewan tersebut. Akuntantabilitas moral seorang pejabat yang dipilih oleh DPR ternyata diduga melakukan suap. Sudah saatnya untuk meninjau kembali Undang-undang tersebut agar tidak terjadi transaksi politik di di DPR lagi,” pungkasnya.
(zal/irw) ref:detiknews
March 21st, 2010 — News
Ribuan bintang laut mati dan tersebar di sepanjang pantai kerikil di Devon kemarin. Diperkirakan makhluk itu kelelahan namun masih belum jelas juga apa penyebab pastinya.

Badan Lingkungan Hidup mengatakan kemarin bahwa fenomena ini tampak seperti kejadian alam dan bukan disebabkan oleh polusi.
Dr David Gibson, direktur National Marine Aquarium di Plymouth, mengatakan kepada BBC News: “Mereka suka bertelur di daerah-daerah seperti ini, di perairan dangkal dekat pantai kerikil.

