Entries Tagged 'News' ↓

Perempuan Penggal Kepala Ibunya

daging manusiaBuset, seorang anak perempuan yang memiliki sejarah penyakit kejiwaan, memenggal kepala ibunya sendiri. Setelah kejadian tragis itu, dia pun melompat dari gedung tempat dia tinggal di Hong Kong, China.

Awalnya perempuan itu menikam ibunya berulang kali pada Minggu 9 Agustus lalu. Puas menikam, pelaku kemudian memenggal kepala ibunya yang sudah berusia lanjut dengan pisau dapur. Polisi baru tiba ke lokasi kejadian, setelah apartemen tempat mereka tinggal terbakar api.

Pelaku yang tidak diketahui namanya tersebut dinyatakan tewas di tempat setelah melompat dari apartemennya. Perempuan yang diduga berusia 40 tahunan tersebut, melompat dari apartemen dalam keadaan telanjang. Demikian dilansir AFP, Selasa (10/8/2010).

Tetangga tempat keduanya tinggal di distrik Kowloon mengatakan, jika mereka mendengar keduanya terlibat adu mulut sebelum insiden itu.
Fajar Nugraha – Okezone

Unik, Lomba Melempar Tabung GAS Elpiji

Unik, dikarenakan merebaknya kasus tabung elpiji yang tidak aman dan mudah bocor hingga menimbulkan ledakan yang memakan korban jiwa dikritisi secara unik oleh warga RW 5 Kelurahan Tunggulwulung, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur.

Kritik unik akan keamanan tabung dilakukan dengan cara menggelar lomba lempar tabung elpiji ukuran 3 kilogram. Acara ini menjadi rangkaian kegiatan aneka lomba dalam rangka perayaan HUT ke-65 Republik Indonesia.

“Mengapa tabung gas 3 kg? Karena ini sangat dekat dengan kehidupan warga sehari-hari,” terang Darmanto, Ketua RT III, mengenai lomba unik yang diselenggarakan warga RW 5 itu. “Dan kami ingin menyampaikan kritik kepada pemerintah untuk lebih memerhatikan kualitas tabung dan alat yang terkait dengan penggunaan kompor gas. Jangan sampai ada korban karena kualitas tabung atau regulator atau selang yang tidak bagus,” ucapnya.

Pada dinding tabung berwarna hijau yang digunakan untuk lomba, panitia menempelinya dengan tulisan tabung elpiji bocor dan non-SNI. Secara kebetulan, tabung yang digunakan memang tabung yang rusak pada bagian lubang atasnya dan tidak ada logo Standar Nasional Indonesia (SNI) meski tercetak logo dan nama Pertamina di salah satu sisi tabung.

Lomba yang digelar di pinggiran sawah bekas panen itu berlangsung cukup unik. Ibu-ibu secara bergiliran mencoba melemparkan sejauh mungkin tabung kosong seberat 5 kg itu. Siapa yang mampu melempar paling jauh, dia dinyatakan menjadi pemenang.

Satu per satu, ibu-ibu yang biasa berkutat di dapur dan dekat dengan si tabung bulat hijau ini pun beraksi. Ada yang melemparkan tabung seperti orang melempar bola boling, yakni mengayunkan tabung dari bawah dan melepaskan tabung saat posisi lengan ke atas. Namun, ada juga yang bergaya ala atlet tolak peluru serta bergaya ala kadarnya, yakni memegang tabung dengan kedua tangan dan melemparkannya ke arah depan. Lomba ini dimenangi Nyonya Lutfi yang mampu melempar tabung sejauh 6,20 meter.

“Di daerah sini memang tidak pernah ada kejadian gas ngowos atau meledak, tapi kami juga khawatir kalau ada tabung yang tidak beres,” kata Nyonya Lutfi.

Di Kota Malang, korban luka akibat kebakaran yang terjadi oleh ledakan elpiji yang bocor sudah kerap terjadi. Selama 2010 ini, tercatat lebih dari enam kasus yang membawa korban luka karena kebocoran elpiji. Peristiwa terakhir terjadi 28 Juli lalu dan menimpa Susriwati (34), warga Jalan Kapri, RT 5 RW 4, Kelurahan Bumiaji Kecamatan Kedungkandang Malang. Pedagang nasi pecel ini mengalami luka bakar setelah ada kebocoran gas elpiji 3 kg di dapurnya.

Lomba unik 17 Agustusan juga digelar puluhan penyandang cacat dari kelompok Anggrek Penyandang Cacat Berkreasi (PCB) Desa Wonokerto, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan, Minggu (8/8/2010) sore.

Para penyandang cacat ini tidak ingin kalah dari mereka yang bertubuh normal dalam memperingati HUT Kemerdekaan RI. Dengan penuh kepercayaan diri serta semangat, mereka berlomba menjadi yang terbaik saat mengikuti berbagai lomba, seperti makan krupuk, bola contong, joget balon, dan balap karung.

Jika biasanya orang berbadan normal berjoget dengan berdiri, mereka terpaksa duduk. Begitu pula saat harus berlari seperti dalam lomba makan krupuk maupun bola contong, mereka berlari dengan merangkak, bahkan ngelesot.

Sedangkan untuk penyandang tunanetra, mereka kebagian menyanyi dengan iringan elekton yang dimainkan Mauludin, penyandang cacat lainnya.

Dengan segala keterbatasannya, para penyandang cacat tampak merasa berbahagia dan berbagi ceria di antara mereka dan juga penonton.

“Wong lomba belum digelar saja, kami sudah tertawa-tawa membayangkannya. Apalagi saat acara berlangsung seperti ini, kami benar-benar merasakan kebahagiaan,” terang Sapto Juli Ismiarti, Ketua Anggrek PCB. Lomba-lomba memperingati HUT ke-65 RI ini digelar secara spontan oleh para penyandang cacat. (why/kur) kompas

Banjir China 2010 Menewaskan Kurang Lebih 1.500 Orang

Banjir China Beijing, Jumlah korban tewas dan hilang akibat bencana banjir di China tahun ini meningkat hingga ke angka 2.100 jiwa.

Dikutip dari Xinhua, Sabtu (7/8/2010), Pemerintah China secara detail melaporkan 1.454 warganya tewas dalam bencana banjir ini, sementara 669 lainnya dilaporkan hilang dan 12 juta warga selamat terpaksa dievakuasi dari rumah mereka.

Menteri Sipil China menyebutkan 1,4 juta rumah dilaporkan hancur dalam bencana banjir kali ini. Banjir juga menyebabkan kerugian hingga 275 miliar yuan atau sekira Rp362,9 triliun (Rp1.319 per yuan).

Akibat bencana ini, wilayah timur laut China merupakan wilayah yang menderita kerusakan paling parah. Hampir seluruh kota dan desa di wilayah tersebut terendam oleh air, sementara sebuah sungai yang membelah wilayah China dan Korea Utara tampak sudah tidak kuat menahan volume yang terus meningkat.
(faj) ref:http://international.okezone.com/read/2010/08/07/18/360710/banjir-di-china-lebih-dari-2-100-tewas-hilang

Tempat Penyuntikan Gas Ilegal Berhasil diGerebek Polisi

gas elpiji

Ulah para penyuntik gas elpiji’ memang sudah sangat meresahkan warga, bahkan lebih berbahaya dari teroris. Untung saja kali ini Polisi berhasil menggerebek tempat penyuntikan gas ilegal di Bekasi. Kali ini pemindahan isi gas dari tabung bersubsidi ke tabung nonsubsidi dilakukan di sebuah rumah kontrakan di Desa Taman Rahayu, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi.

Penggerebekan itu dilakukan Rabu (4/8/2010) oleh jajaran Polsek Setu. Polisi menangkap dua orang yang diketahui sebagai pekerja. Adapun pemilik usaha penyuntikan gas ilegal itu sampai Kamis (5/8/2010) dinyatakan masih buron.

Hal ini disampaikan Kepala Bagian Operasi Polres Metro Bekasi Kabupaten Kompol YS Muryono dalam jumpa pers terkait pelaksanaan Operasi Kilat Jaya, Kamis siang. Dari rumah kontrakan itu polisi menyita sekitar 250 tabung gas ukuran 12 kilogram dan ukuran 3 kilogram.

Polisi juga mengamankan sejumlah regulator dan plastik segel. Adapun kedua pekerja yang ditangkap, yakni Pian (23) dan Putra (17), ditahan di Polsek Setu.

Redenominasi 2013, Uang Satu Juta jadi Seribu Rupiah

uang seribu rupiah
uang

Sebuah kabar mengjutkan dari Gubernur BI, Ia berencana untuk redenominasi mata uang indonesia sehingga “satu juta jadi seribu rupiah”. Targetnya, sepuluh tahun ke depan redenominasi Rupiah sudah bisa tuntas. Untuk itu, BI telah menyiapkan tahap-tahapan redenominasi Rupiah.

Kepada wartawan di Jakarta, Selasa 3 Agustus, Darmin menjelaskan bahwa rencana penyederhanaan mata uang rupiah alias redenominasi tersebut dilakukan karena pecahan mata uang Rupiah sudah sangat besar. Menurut Darmin, saat ini mata uang Rupiah menjadi pecahan terbesar ketiga di dunia (100.000) setelah mata uang Dong Vietnam (500.000) dan Dolar Zimbabwe (10 juta).

“Selama ini kan tidak efisien. Untuk melakukan pembayaran dalam jumlah besar, harus membawa uang dalam tas. Ini kita sederhanakan nilai uangnya menjadi lebih kecil tanpa mengurangi nilai mata uang itu sendiri,” jelas Darmin.

Darmin menegaskan, redenominasi Rupiah kali ini sama sekali beda dengan apa yang dilakukan di era Presiden Soekarno. Menurutnya, redenominasi bukanlah pemotongan nilai uang yang diikuti penurunan nilai barang (sanering) seperti pernah dilakukan pemerintah pada tahun 1960-an. Sebaliknya, redenominasi adalah penyederhanaan mata uang menjadi lebih kecil tanpa mengubah nilainya.

Artinya, pecahan mata uang disederhanakan tanpa mengurangi nilai dari uang tersebut. Misalnya Rp 1.000 menjadi Rp 1 atau Rp 1 juta menjadi Rp 1.000. Bila sebelumnya membeli minuman seharga Rp 1.000, maka nantinya tetap membeli minuman Rp 1.000 dengan pecahan uang Rp 1.

“Jadi, ini bukan sanering, bukan pemotongan. Sanering dilakukan bila suatu negara dalam situasi merugi dan inflasi tinggi. Artinya karena inflasi tinggi, daya beli mata uangnya merosot makanya perlu dilakukan pemotongan. Tapi sekarang kita kan sebaliknya. Makanya, redenominasi karena hanya bisa dilakukan kalau perekonomian sedang stabil. Kita sekarang sedang stabil,” kata Darmin panjang lebar.

Deputi Gubernur BI Budi Rochadi menambahkan, redenominasi sudah pernah dilakukan Indonesia pada tahun 1966. Namun karena saat itu inflasi di Indonesia sedang tinggi, maka redenominasi yang diberlakukan pemerintah justru gagal mengamankan perekonomian.

Menurut Budi, saat itu uang Rp 1.000 menjadi Rp 1. Karena gagal, tahun itu juga BI sekaligus melakukan sanering, yakni melakukan pemotongan uang di mana yang dipotong hanya nilai uangnya saja.

“Jadi kita sudah pernah redenominasi sekali dan sanering sekali. Waktu itu karena inflasi, redenominasi gagal. Sekarang kita usulkan lagi wacana redenominasi karena inflasi kita sudah terkendali,” kata Budi.

Untuk mendukung langkah redenominasi mata uang Rupiah, BI pun telah menyiapkan tahapan-tahapan redenominasi. Tahun 2011 hingga tahun 2012, akan dijadikan masa sosialisasi kepada masyarakat tentang redenominasi. Di tahun 2013 hingga tahun 2015, menjadi masa transisi. Selama masa ini, nantinya harga barang akan ditulis dalam dua harga yakni terdiri atas Rupiah lama dan Rupiah baru.

Misalnya, barang seharga Rp10.000 akan ditulis dalam dua harga yaitu Rp10.000 dan Rp10 (baru). Selanjutnya, masyarakat akan mengenal yang namanya Rupiah lama dan Rupiah baru. Selama masa transisi ini pula, semua pembayaran termasuk pengembalian akan menggunakan keduanya. Sementara itu, BI perlahan-lahan akan mengganti uang Rupiah lama dengan uang Rupiah baru.

Pada tahun 2016 hingga 2018, BI menargetkan uang kertas yang beredar saat ini atau Rupiah lama, akan benar-benar habis di masyarakat. BI pun akan melakukan penarikan uang Rupiah lama dan menggantinya dengan uang Rupiah baru.

Tahun 2019 hingga tahun 2020, BI menargetkan seluruh uang Rupiah lama sudah tergantikan dengan uang Rupiah baru. Masyarakat Indonesia akan menggunakan uang Rupiah yang ada saat ini namun dengan nilai yang lebih kecil. Untuk mata uang kecil ini nantinya akan berlaku kembali uang koin dan nilai pecahan sen.

Redam Pasar

Isu redenominasi yang dilontarkan bank sentral tersebut langsung memicu gejolak pasar. Sebagai gambaran, kemarin Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) membukukan penurunan tajam di bawah level 3.000, kemarin. Indeks bursa lokal tersebut ditutup melemah 85,32 poin atau 2,79 persen ke posisi 2.973,66. Penurunan IHSG ini tercatat sebagai penurunan terbesar di Asia.

Saham yang mengalami penurunan besar di antaranya PT Astra International Tbk (ASII) yang turun Rp 2.450 ke Rp 47.500 dan PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) turun Rp 600 ke Rp 15.900. Begitu pula saham di sektor konsumsi yang membukukan penurunan terbesar sebanyak 35,53 poin. Saham PT Gudang Garam Tbk (GRGM) juga turun Rp 850 ke Rp 35.450 dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) turun Rp 650 ke Rp 16.100.

Kemarin, nilai transaksi di Bursa Indonesia tercatat Rp 4,92 triliun dengan volume sebanyak 4,69 miliar lembar saham. Sebanyak 196 saham melemah, 43 saham menguat, dan 52 saham tidak berubah harga.

Sentimen negatif dari pasar saham dan wacana redenominasi membuat rupiah juga tertekan. Kemarin, rupiah melemah tipis ke level Rp 8.941 per USD, turun dibanding angka pada perdagangan sebelumnya Rp 8.938 per USD.

Atas gejolak tersebut, mantan Gubernur BI yang kini “naik pangkat” menjadi Wakil Presiden, Boediono, langsung turun tangan menenangkan pasar. Ia menegaskan bahwa redenominasi Rupiah masih berupa studi. Untuk itu, Boediono meminta semua pihak menjaga ketenangan dan tidak terpengaruh dengan hasil studi yang belum menjadi sebuah kebijakan.

Hal itu disampaikan Wapres Boediono usai rapat mendadak bersama Menkeu Agus Martowardojo dan Gubernur terpilih BI Darmin Nasution. “Sekarang yang penting jaga suasana kestabilan dan ketenangan, tidak usah terpengaruh oleh hasil studi,” kata Wapres yang saat konferensi pers tidak didampingi Darmin.

Boediono mengatakan, studi mengenai redenominasi sudah lama dilakukan bank sentral. Studi mengenai hal ini dilakukan bersamaan dengan kajian sistem keuangan secara jangka panjang.

Dia mengatakan, redenominasi bukan dilakukan karena perekonomian yang memburuk. Sebaliknya, redenominasi malah dilakukan saat ekonomi membaik. “Redenominasi dilaksanakan justru saat ekonomi bagus di mana bisa dilakukan perubahan,” kata Boediono.

Ia mengakui, salah satu yang harus diperhatikan dalam redenominasi adalah inflasi. “Kita tidak ingin ada dampak berat pada inflasi. Kalaupun di masa depan ada redenominasi, nanti kapan saya tidak tahu, yang jelas kalau ada policy seperti itu, jangan sampai ada dampak negatif memberatkan,” kata Boediono.

Pengalaman dari negara lain juga akan masuk dalam pertimbangan studi. Selain itu, kata Boediono, pemerintah tetap berkomitmen menjaga inflasi dengan memperlancar arus barang. (jpnn)