Mengintip Kehidupan Bali di Masa Lalu (17+ Only)

Mohon maaf sebelumnya, postingan ini tidak bermaksud pornografi atau sejenisnya, Postingan ini hanya bertujuan menyediakan pengetahuan sejarah kehidupan masyarakat Bali.

Maaf pula bagi saudara2 dari Bali kalo yg kurang berkenan, tp inilah budaya kalian tempo dulu..
Sebenarnya bukan hanya di Bali saja yang seperti ini, bahkan hampir di seluruh Nusantara, tapi ane blom nemu pic nya (dalam pencarian)
Pic juga semua diambil dr om gugel dan tahun pengambilan sekitar 1950-an

BERIKUT Potret kehidupan Bali pada era sekitar 1950


Kehidupan Masyarakat Bali Tempo Doeloe

Spoiler for bali1:

Spoiler for bali2:

Spoiler for bali3:

Spoiler for bali4:

Spoiler for bali5:

Spoiler for bali6:

Spoiler for bali7:

Spoiler for bali8:

bonus

Spoiler for bonus:


the original bali virgin dance

ref:http://www.kaskus.us/showthread.php?t=3845741

Golok Betok Betawi Ternyata Berusia 800 Tahun

Sebagai bangsa Indonesia, pastinya kita tahu bahwa setiap daerah atau etnis di Indonesia memiliki ciri khas masing-masing mulai dari adat, pakaian, senjata dan lainnya. Etnis Jawa misalnya, memiliki keris sebagai senjata kebesaran mereka, etnis Sunda terkenal dengan kujangnya, etnis Madura terkenal dengan celuritnya, dan etnis Betawi yang masyhur dengan Golok Betoknya yang berumur 800 tahun.

Sebagai sebuah senjata pusaka, keberadaan Golok Betok merupakan fase awal asal muasal senjata dalam sejarah nusantara. Bahkan, sebelum senjata khas Jawa Barat kujang ada, Golok Betok sudah ada konsepnya terlebih dahulu. Namun, karena Kerajaan Padjajaran memohon kepada Sang Empu agar dibuatkan secepatnya sebuah senjata bernama kujang, pembuatan Golok Betok menjadi tertunda.

“Saat ini keberadaan Golok Betok yang dulunya biasa digunakan para jagoan dari Betawi sudah hampir punah,” cerita Aziz Munandar, ahli pengobatan tradisional yang juga salah seorang kolektor benda berharga yang dikutip dari situs Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Di tangannya, senjata pusaka berusia 800 tahun itu terlihat masih terawat dengan baik, dan tidak sembarang orang bisa melihatnya dari dekat. Karena keberadaannya yang mulai langka, Azis menjamin hanya segelintir orang saja yang masih memilikinya. Kalau pun ada di tangan orang awam, bisa jadi Golok Betok itu adalah golok imitasi yang tidak memiliki sejarah panjang sebagaimana Golok Betok miliknya.

Menurut Azis, Golok Betok dibuat lebih awal dari pisau raus, gaman, ataupun keris. Azis meyakinkan jika Golok Betok yang menjadi koleksi miliknya itu adalah asli. Bentuk badan dan mata pisau yang terbuat dari baja hitam dengan gagang gayu hitam atau gading menandakan keaslian senjata pusaka khas Betawi tersebut. “Saya berani bertaruh kalau senjata yang ada ini asli,” katanya.

Tak hanya Golok Betok senjata peninggalan Betawi yang menjadi koleksi pribadi Azis Munandar. Beberapa senjata kuno Betawi yang berumur ratusan tahun pun masih tersimpan rapi dan terawat di kediamannya. Beberapa senjata khas Betawi miliknya adalah kujang Betawi yang juga berusia 800 tahun, pisau raus berusia 500 tahun, dan pedang cengkrong yang berusia 600 tahun berbentuk melengkung pada bagian punggungnya.

Pedang ini merupakan satu-satunya pedang yang tersisa. Hal tersebut telah dibuktikannya setelah Azis berkali-kali menghadiri pameran senjata Betawi. Tak ada senjata jenis pedang cengkrong. Jika pun ada dipastikan itu pedang buatan atau imitasi.

Azis menyebutkan saat ini koleksi senjata pusaka khas Betawi tinggal berjumlah 5 buah. Sementara koleksi senjata nusantara yang dimilikinya berjumlah lebih dari 200 buah, mulai dari pedang hingga keris. Dirinya juga mengklaim beberapa benda pusaka koleksinya merupakan milik tokoh sejarah ternama antara lain pisau Pangeran Jayakarta dan keris peninggalan Aru Palaka. ref:Vivanews

Unik, Anak yang Suka Makan Nyamuk dan Serangga

Eri bersama kedua orangtuanya. (istimewa
Dulu saya pernah lihat ada anak yang makan tanah, kini ada lagi yang lebih aneh dan unik, anak ini makan nyamuk dan serangga. UMURNYA sudah 7 tahun. Tetapi orangtuanya, pasangan Nuhari (44) dan Warsiah (42), warga Dusun Sambiroto Desa Jugo Kecamatan Mojo Kabupaten Kediri, belum juga memasukkan Eringga ke sekolah. Mereka cemas melepas putra keempatnya itu karena mempunyai kebiasaan super aneh.

Eringga suka memasukkan apa saja dalam mulutnya dan melahapnya seperti makanan. Ia pernah minum minyak kayu putih hingga oli bekas, makan sabun colek hingga bedak. Terakhir yang paling membuat keluarganya cemas, bocah laki-laki dengan rambut ikal ini suka menangkap nyamuk dan serangga untuk dilahap.

Menurut ibunya, Eri, panggilan akrab bocah itu, mengalami kebiasaan super aneh itu sejak dua tahun belakangan. Awalnya, bocah itu terlihat suka mengoleskan minyak kayu putih dan menaburkan bedak pada sekujur tubuhnya.

Warsiah dan sumai awalnya menganggap wajar hal itu. Pasangan ini setiap pagi meninggalkan Eri di rumah bersama kakak-kakaknya untuk menyambung hidup, menyadap getah pinus di lereng Gunung Willis.
Tetapi, tanpa setahu mereka kebiasaan buruk Eri makin menjadi-jadi. Bedak yang semula hanya ditaburkan di badan, dimakannya. Begitu juga minyak kayu putih diminumnya. Tidak hanya itu, si bocah diam-diam terbiasa makan pasta gigi, sampai arang. Ia juga mulai suka memakan daging mentah.

Akibat kebiasaan buruk itu, suatu saat Eri harus menjalani rawat inap di rumah sakit karena keracunan. Entah yang dimakan apa. Begitu melihat anaknya mulai suka berburu nyamuk dan serangga untuk dimakan hidup-hidup, Warsiah memutuskan untuk tinggal di rumah demi menjaga Eri.
Kepala Puskesmas Mojo dr Iradat Sujono mengaku telah memberi atensi khusus terhadap Eri. “Kami telah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri. Rumah sakit akhirnya menyediakan obat gratis yang setiap 10 hari sekali bisa diambil keluarga Er,” katanya.

Menurutnya, apa yang terjadi pada Eri merupakan gejala-gejala autisme semata. Obat yang diberikan kepada bocah ini hanya penenang, agar Eri tidak terlalu aktif. “Begitulah autis yang selalu asyik dengan diri dan dunianya sendiri,” kata seperti dilansir surya. (syc/ijo)

Cara Membaca Rambu Lalu Lintas yang Baik dan Benar

Banyak pengendara yang tidak mengindahkan atau mungkin mereka tidak tahu bahwa saat bertemu dengan tiang besar yang ada lampunya ( merah, kuning dan hijau ) ada aturan yang harus ditaati. Nah pada kesempatan kali ini aku ingin membagi sedikit pengetahuanku tentang aturan-aturan tersebut. Simak baik-baik ya, berikut rinciannya :

1.

Pada saat kita berhenti di lampu lalu lintas, kendaraan kita tidak boleh berhenti melewati garis putih zebra cross ( tempat penyebrangan ) karena tentu saja akan mengganggu pejalan kaki yang mau menyebrang. Tapi banyak pengendara yang tidak mengindahkan aturan ini, bahkan mereka ada yang berhenti di depan zebra cross. Tolong perhatikan yah. Ini demi kenyamanan kita bersama kok. ^_^

2.

Pada saat Lampu merah, kita tidak boleh mengambil jalur pengendara lain. Apabila hal itu dilakukan maka kejadiannya akan sama seperti pada gambar di atas. Perhatikan GARIS BATAS baik-baik, karena itu bukan hanya sekedar garis, namun garis itulah yang mengatur posisi dimana kita harus berhenti. Taati yah gan biar tertib ^_^.

3.

Nah, ini yang paling sering dilakukan oleh pengendara. MENEROBOS lampu merah ! Mbok yah bersabar toh, ikuti aja aturan yang ada. Kalau lampu merah yah berhenti. Tapi kalau nekat menerobos, yah seperti ini jadinya. Ketabrak kn. Trus yang rugi adalah anda sendiri, dan karena ulah anda, orang lainpun dirugikan. Lampu lalu lintas dibuat untuk ditaati bukan untuk dilanggar gan !

4.

Mesti diperhatikan tujuan anda dengan posisi berhenti. Apabila kita ingin memasuki simpang sebelah kanan, pada saat lampu merah kita harus berhenti di lajur kanan. Apabila kita mau melaju ke simpang depan dan kiri, maka kita harus berhenti di lajur kiri. Kalau hal ini kita tidak indahkan, maka kejadiannya akan seperti pada gambar di atas. Mungkin saja akan terjadi kecelakaan akibat ulah kita dan kalupun kecelakaan tidak terjadi mungkin saja kita akan diteriaki orang ” WOY TAHU ATURAN NGGAK !!” nah kurang lebih gitu. Hehehe…

Nah, cukup sekian dulu yah penjelasan dan bai-bagi ilmu dari aku, semoga apa yang aku share dapat bermanfaat bagi kita semua. Mudah-mudahan setelah membaca posting ini yang belum mengerti bisa menjadi mengerti dan yang sudah mengerti bisa jadi lebih mengerti. hehehehe.. Tapi ingat yah gan, lampu lalu lintas tujuannya adalah untuk keselamatan kita bersama kok. Jadi taati aja ya. Lebih baik terlambat 5 menit dari pada kecepatan 5 menit sampai di rumah sakit. ref:http://pangeransalju1988.blogspot.com/2010/03/aturan-di-lampu-lampu-lalu-lintas.html

28 TKI Berjalan Kaki 12 Hari Menembus Hutan Sarawak-Kaltim

Ilustrasi Hutan
Prihatin sekali, hanya berbekal 2 Kg beras dan panci kecil mereka berjalan menyusuri hutan,

Tenaga kerja Indonesia (TKI), yang berjumlah 28 orang, kabur dari perusahaan tempat mereka bekerja di Malaysia Sabtu 13 Maret lalu. Setelah 12 hari berjalan menembus hutan, mereka sampai ke wilayah Indonesia di Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur. Inilah kisah perjalanan mereka menembus hutan perbatasan Indonesia-Malaysia.

Para TKI itu bekerja di Malaysia lewat PJTKI (perusahaan jasa tenaga kerja Indonesia) ACL yang berkantor di Pontianak, Kalimantan Barat. Dalam perekrutan, mereka dijanjikan bekerja di kota dengan penghasilan banyak. “Nyatanya, kami dipekerjakan di tengah hutan,” ungkap Suhendi, salah seorang di antara 28 TKI tersebut.

Gaji besar pun sekadar janji. Selama bekerja di perusahaan di Malaysia itu, mereka diupah MYR 18 (setara dengan Rp 54 ribu) sehari. Upah itu mereka terima untuk 12 jam kerja dalam sehari.

Aturannya memang cuma delapan jam sehari. Yang empat jam adalah lembur. Meski disebut lembur, faktanya wajib dilakukan. Kalau tidak ikut lembur, yang delapan jam tidak diakui. Artinya, upah sehari itu hilang. “Bahkan, dipotong MYR 100,” tambah Suhendi.

Aturan di perusahaan itu benar-benar ketat. Keterlambatan satu menit saja sudah dianggap terlambat satu jam yang berarti kena potongan lagi. “Kami merasa tertipu,” ujar Suhendi yang dibenarkan tiga rekannya -Dadan, Sulaiman, dan Muhammad Yacob- saat ditemui Radar Tarakan (Grup Batam Pos) di rumah Dinas Kapolsek Kayan Hulu Ipda Alyadi kemarin (6/4).

Merasa tidak nyaman lagi bekerja di perusahaan tersebut, mereka memutuskan kabur dari perusahaan. Tujuannya kembali ke wilayah Indonesia dengan menembus hutan perbatasan.

Persiapan untuk melakukan perjalanan itu apa adanya. Mereka hanya membawa pakaian dan makanan seadanya. Selama perjalanan tanpa arah itu, mereka pernah menginap satu malam di kampung Dayak Punan di kawasan Sarawak, Malaysia.

Pertolongan mereka dapatkan dari warga di kampung Dayak tersebut. Seorang warga memberi mereka peta perjalanan menuju wilayah Indonesia. “Yang memberi seperti tentara dan bisa berbahasa Jawa,” kata Suhendi.

Perjalanan selama 12 hari menembus hutan itu bisa menjadi pengalaman yang tidak akan terlupakan bagi mereka. Suhendi, yang berasal dari Sukabumi, Jawa Barat, menuturkan bahwa mereka hanya membawa dua kilogram beras dan lauk seadanya yang mereka beli secara patungan.

Untuk menghemat perbekalan, mereka lebih sering makan daun singkong yang banyak mereka temukan di hutan. Mereka juga membawa panci kecil untuk memasak. “Panci itu kami bawa dari kamp di perusahaan,” ujar Muhammad Yacob, yang mengatakan baru satu setengah bulan bekerja di perusahaan tersebut.

Selama dalam perjalanan, mereka tidur di tempat terbuka dan berjaga bergiliran. Untung, selama 12 hari itu, mereka tidak bertemu dengan binatang buas. “Paling hanya babi hutan dan monyet,” tambah Yacob.

Berbekal peta pemberian warga Dayak Punan tersebut, mereka sampai juga di perbatasan Sarawak (Malaysia) dan Long Bawang, Kayan Hulu (Indonesia). Setelah sampai di perbatasan itu, mereka menginap di pos pengamanan perbatasan (pamtas). Mereka menumpang tidur dan bergabung dengan anggota TNI selama dua malam.

Selama bergabung di pos pamtas, para TKI itu memasak beras mereka sendiri dari sisa bekal yang mereka bawa selama perjalanan. Pada hari kedua bersama anggota pamtas, persediaan TKI habis. Untung, petugas di pamtas berbaik hati dengan merelakan sebagian jatah logistik untuk mereka.

Mereka meninggalkan pos perbatasan tersebut sore hari dan menginap di sebuah pondok di tengah ladang. Sekitar pukul 10.00 pada 25 Maret mereka sampai di Polsek Long Nawang, Malinau. “Lumayan jauh, sekitar 28-30 kilometer dengan kondisi jalan naik turun,” terang Suhendi.

Kemudian, rombongan melanjutkan jalan kaki menuju Long Ampung yang berjarak 12 kilometer dari polsek tersebut. Jarak tersebut mereka tempuh tiga jam.

Para TKI itu bersyukur karena sudah bisa menginjakkan kaki di negara sendiri meski belum sampai ke kampung halaman di Jawa Barat. Rencananya, mereka pulang kampung Kamis besok (8/4), setelah keluarga mereka mengirimi uang.

Mereka tidak berencana untuk menuntut balik para jasa penghubung yang merekrut mereka. “Baru kalau mereka menuntut kami, kami akan tuntut balik,” kata Suhendi.

Rencananya, Suhendi kembali berjualan es campur khas Cirebon yang sudah dirintisnya, sambil menggarap sawahnya jika musim hujan. Sementara, Sulaiman akan membantu orang tuanya berjualan di pasar, Yacob akan kembali melakukan aktivitas sebagai tukang ojek. Dadan akan bergabung dengan Suhendi berjualan es campur khas Cirebon.

“Kami ucapkan terima kasih kepada Pak Kapolsek (Ipda Alyadi) Kayan Hulu dan keluarga serta keluarga besar Suku Sunda di Malinau yang telah menampung kami dan membantu kami selama di Malinau,” ujar Suhendi, menutup kisahnya. (jpnn/c1/ruk)- batampos